Monday, 28 January 2008

GENDU-GENDU RASA

Mulai posting ini akan saya coba tuliskan hal kecil yang terjadi di masyarakat pedesaan khususnya Petani Mahoni yang tengah berusaha bangkit untuk memperoleh Sertifikasi Pengelolaan Hutan Rakyat secara Lestari. Banyak hal yang terlewatkan begitu saja dari pikiran kita, tapi bilamana kita mau merenungkan atau bahasa inteleknya kita kaji lebih dalam. Teramat banyak yang kita lewatkan itu sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Petani. Dengan rubrik Gendu-gendu Rasa iniyang menurut dialek Kebumenan adalah Ngobrol Santai sambil bertukar pikiran menjadi pilihan bentuk tulisan ini. Dengan Gendu-Gendu Rasa kiranya dapat menyampaikan uneg-uneg/pemikiran masyarakat Petani Mahoni khususnya pada semua kalangan yang concern terhadap Petani dan khususnya pada Geliat Petani Mahoni Meraih Sertifikasi FSC.

JOR KLOWOR (BAGIAN 1)
Jor klowor dalam bahasa Jawa dialek Kebumen sama dengan Tidak Diperhatikan atau Masa bodoh! Jawaban yang sama di hampir semua desa bila ditanyakan tentang pemeliharaan/pengelolaan pohon Mahoni. Hampir semua masyarakat desa dalam perawatan Mahoni tidak diperhatikan atau dimasa bodohkan alias Jor Klowor. Hal ini dilakukan oleh petani dengan berbagai macam alasan.

Sangat sedikit masyarakat desa yang merawat pohon Mahoninya sebagaimana mereka merawat pohon Albasia atau Jati. Jor Klowor ini tak lepas dari nilai jual pohon Mahoni yang selama ini masih jauh dari Jati, apalagi pertumbuhannya yang cukup lama. Menurut masyarakat dan dari beberapa kajian umur pohon Mahoni yang siap tebang adalah 15 tahun. Berbeda dengan Albasia yang cukup dengan umur 6 tahun sudah bisa ditebang dan menghasilkan uang.

Anakan alam (tukulan) pohon Mahoni yang banyak terdapat di
lahan petani anggota Kelompok Tani Mahoni di Kebumen
Berbeda lagi dengan pohon Jati, masyarakat lebih memperhatikan pemeliharaan pohon Jatinya karena pada masa 1 – 5 tahun terlihat jelas pertumbuhannya yang pesat, berbeda dengan Mahoni yang cukup lambat pada usia tersebut. Apalagi dengan adanya jenis Pohon Jati Emas yang pertumbuhannya sangat pesat dibandingkan Mahoni. Walaupun sampai dengan saat ini belum terbukti mutu maupun adanya berita kesuksesan petani yang menanam Jati Emas. Tapi masyarakat yang mudah sekali meniru apalagi didorong dengan program pemerintah menggunakan Jati Emas. Petani langsung mengalihkan penanaman dan pemeliharaannya pada Jati Emas. Apalagi dengan gencarnya berita tentang Jati Emas di masyarakat beberapa tahun lalu. Hingga ada joke di kalangan petani tentang Jati Emas yang nilai jualnya sangat tinggi. "Jati Emas dijamin harganya jauh lebih tinggi, tapi untuk itu ada syaratnya....Juallah pohonmu tapi selipkanlah Emas di pohon itu....PASTI MUAHAAAL.....".
Sementara pohon Mahoni yang sudah terbukti mutu dan kemampuannya beradaptasi dengan lahan apapun, dibiarkan merana. Ada satu kalimat yang sering jadi jawaban petani bila ditanya kenapa tidak/kurang memperhatikan pemeliharaan pohon Mahoninya : “Gedene suwe, ora ditandur bae akeh tukulane!” terjemahan bebasnya kira-kira : besarnya lama, tidak ditanampun sudah banyak anakan alamnya.


Geliat Kelompok Tani Mahoni Tani Makmur dari Desa Wonoharjo Kec. Rowokele
Kebumen dalam menanam dan memelihara dengan baik pohon Mahoninya sebagai salah
satu kegiatan Hutan Rakyat Mahoni (6-1-2008)
"Ngelmu Jor Klowor" yang jadi kebiasaan Petani dalam menangani pohon Mahoninya tentunya ada yang menjadi penyebabnya. Walaupun untuk segelintir orang tetap memelihara pohon Mahoninya dengan baik dan penuh keuletan seperti tanaman lainnya.

Sementara itu..... Pohon Mahoni yang besar-besar dengan mudahnya dilipat menjadi beberapa lembar uang Ratusan ribu rupiah. Padahal pohon besar itu yang menanam adalah Bapaknya, atau seringkali justru Kakek/Mbah-nya dulu sewaktu muda. (BERSAMBUNG)